Yi Wushen menyeka darah yang menetes dari sudut bibirnya. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun tak beraturan. Tatapannya terpaku pada Zhao Feng yang masih berdiri tegap di udara, tubuhnya dibalut aura api keemasan yang perlahan bergetar namun stabil. Ketidakpercayaan menyelimuti wajahnya, dan hatinya bergetar hebat seolah hendak runtuh.

Mustahil... Dengan kekuatanku sekarang, teknik Starfall Prison seharusnya cukup untuk menjatuhkannya. Tapi dia menghancurkannya dengan mudah... dan serangannya tadi... aku bahkan tidak sempat menangkis sepenuhnya...

Zhao Feng melangkah pelan di udara. Setiap langkahnya menggetarkan ruang. Matanya menyala tajam, menusuk jiwa. Aura keabadiannya yang selama ini tersembunyi kini tampak dengan jelas. Tidak ada lagi yang ditutupi.

"Yi Wushen," suaranya berat dan mantap, memecah keheningan yang mencekam, "kau bukan satu-satunya yang berkembang dalam seratus tahun terakhir. Aku juga tak diam menunggu waktu berlalu."

Tubuh Zhao Feng memancarkan cahaya menyilaukan. Dalam sekejap, tekanan luar biasa menyelimuti seluruh medan tempur. Tanah di bawah mereka berguncang, langit menggelegar seperti menyambut murka para dewa.

Yi Wushen terdiam membeku. Begitu juga Mei Lianhua dan Gong Nanlie. Mereka terpaku dengan mata membelalak, tak mampu menyembunyikan keterkejutan yang menyergap.

"Tidak..." Mei Lianhua berbisik, suaranya gemetar. Wajahnya memucat, tubuhnya sedikit bergetar. "Itu... itu aura tahap akhir immortal..."

Gong Nanlie menggenggam senjatanya erat, urat-urat di tangannya menegang. "Tidak aku sangka... Dalam seratus tahun kita tidak bertemu dengannya, ternyata dia mampu mencapai tahap akhir."

Zhao Feng menoleh, kali ini ke arah Lynx. Sebuah senyum kecil muncul di wajahnya. Senyuman yang tenang, damai, namun penuh makna.

"Semua ini... berkat pemuda itu. Setelah dia menyembuhkanku, tubuhku seperti menembus batas yang selama ini mengurungku. Semua luka qi, kerusakan inti spiritual, dan gangguan di jalur meridianku... menghilang seperti tak pernah ada. Terutama saat melawannya, aku seperti menemukan batas yang ingin kulewati."

Mei Lianhua dan Gong Nanlie saling berpandangan sejenak. Lalu, dengan gerakan serempak, mereka melesat ke sisi Yi Wushen.

“Kita serang bersama,” ucap Mei Lianhua, nadanya dingin dan tegas. Tatapannya menyala oleh amarah dan rasa malu yang terpendam. Ia tak ingin kembali dipermalukan oleh Zhao Feng.

Namun Zhao Feng tetap tak bergerak. Ia berdiri tenang di tengah langit, suaranya menggema ke segala penjuru, tegas namun tenang.

"Apa kalian masih belum puas? Tujuan kita ke sini bukan untuk saling membunuh. Kita harus memeriksa fragmen senjata iblis itu. Jangan sampai kita membuat kesalahan yang akan disesali oleh kita semua."

"Jangan dengarkan dia!" seru Mei Lianhua. Wajahnya penuh kebencian, giginya terkatup rapat, dan aura dingin menyebar dari tubuhnya. "Ini kesempatan untuk kita membalas kekalahan kita sebelumnya dan menunjukkan kekuatan kita saat ini. Kita harus melawannya sekarang juga!"

Dia mengangkat tangan tinggi ke udara. Aura dingin membungkus langit dan bumi. Kabut es menyelimuti area pertempuran, lalu berubah menjadi kelopak-kelopak es raksasa yang berputar perlahan namun mengancam. Suhu menurun drastis, waktu seakan melambat.

"Frozen Lotus Domain!"

Tubuh Zhao Feng langsung melambat. Gerakannya kaku, udara di sekitarnya mengeras seperti dinding es tak terlihat. Otot-ototnya menegang.

Melihat Mei Lianhua sudah bergerak, Gong Nanlie yang sempat merasa ragu ikut bergerak mengeluarkan jurus yang sudah pernah mereka latih bersama sebelumnya.

Sret!

Dari dalam tanah, semburan magma meledak. Sembilan tombak lava memancar ke langit, lalu meluncur ke arah Zhao Feng dengan kecepatan mengerikan. Panasnya cukup untuk melelehkan batu langit dan membakar jiwa siapa pun yang tersentuh.

“Nine Volcano Spears!” Gong Nanlie berteriak keras, aura spiritualnya menyala membara.

Sementara itu, Yi Wushen mengayunkan telapak tangannya ke depan dengan gerakan tegas.

"Celestial Annihilation Palm!"

Sebuah telapak raksasa terbentuk dari cahaya keemasan, menyapu langit dengan energi penghancur. Langit mendesing, tanah di bawah bergetar hebat. Serangan itu membawa kekuatan untuk menghancurkan segalanya dalam radius puluhan kilometer.

Tiga kekuatan berbeda, es yang membekukan waktu, lava yang membakar dunia, dan kekuatan langit yang menghancurkan dimensi, menyatu menjadi badai kehancuran yang mengarah ke satu titik.

Namun Zhao Feng tidak bergerak mundur. Ia menarik napas dalam, lalu mengangkat kedua tangannya tinggi ke langit. "Kalian yang memaksaku."

Pilar-pilar cahaya api terbentuk di udara, berubah menjadi tombak raksasa yang menyala merah keemasan. Suara menggelegar mengiringi turunnya cahaya itu dari langit.

"Flame God's Judgement!"

Tombak-tombak api itu meluncur seperti kilat surgawi. Satu per satu menghantam ketiga jurus musuh, menciptakan ledakan yang mengguncang langit dan bumi.

Duar! Duar! Duar!

Langit hancur, udara terbakar sekaligus membeku, menciptakan ledakan dahsyat yang mengguncang langit benua. Banyak kultivator langsung pingsan akibat tekanan spiritual yang menghantam jiwa. Formasi pelindung runtuh, tanah bergetar, gunung terbelah, dan langit penuh dengan pusaran energi yang menggila.

Tiga sosok terlempar jauh. Mei Lianhua menghantam batu dengan keras, darah mengalir dari bibirnya. Gong Nanlie memunculkan perisai magma untuk bertahan, tapi tubuhnya tetap terluka parah. Yi Wushen melayang tak seimbang, wajahnya pucat, napasnya terputus-putus.

Perbedaan kekuatan itu terlalu besar. Terlalu mencolok.

Zhao Feng tetap berdiri di tempat semula. Tubuhnya masih tegap, meski pundaknya naik turun, napasnya berat. Kekuatan tahap akhirnya memang luar biasa, tapi masih belum sepenuhnya stabil. Ia masih berusaha menyatu dengan kekuatan barunya.

“Kalian sudah kalah,” katanya pelan, namun nada suaranya tajam dan tegas. “Bisakah kita sudahi semua ini sekarang?”

Tak satu pun dari mereka menjawab. Dalam diam, rasa malu membakar hati mereka. Dihadapan ratusan pasang mata yang menyaksikan, harga diri mereka hancur. Mereka tidak bisa menerima kekalahan... setidaknya belum sekarang.

Mei Lianhua menunduk, rahangnya mengeras. Suaranya lirih, namun penuh tekad.

"Kita gunakan jurus gabungan... Nirwana Langit."

"Tapi jurus ini bisa membunuhnya." Gong Nanlie berkata dengan nada ragu.

Mei Lianhua menatap Gong Nanlie dengan marah, "Kamu pengecut. Lihat tingkatannya, jurus gabungan kita ini pasti hanya membuatnya terluka. Lakukan sekarang juga!"

Yi Wushen dan Gong Nanlie saling bertukar pandang. Mereka mengangguk pelan, lalu Mei Lianhua dan Gong Nanlie berdiri di belakang Yi Wushen. Aura mereka kembali menyala, dan langit pun ikut bergemuruh menyambut jurus akhir yang akan dilepaskan.

Dengan tubuh bersinar dan wajah serius, keduanya menyalurkan seluruh kekuatan ke dalam tubuh Yi Wushen. Energi spiritual mengalir mulus seperti arus sungai surgawi. Napas Yi Wushen tertahan, lalu dia mengangkat kedua tangannya dan dari atas kepalanya perlahan terbentuk tombak raksasa, tombak gabungan unsur es dan api, dililit oleh petir ungu yang berputar seperti naga surgawi.

Langit menjadi gelap gulita. Awan hitam tebal menggulung dari segala arah. Angin mengamuk, pepohonan tercerabut dari akar, tanah retak hingga jauh ke horizon.

Zhao Feng mengangkat wajah, matanya melebar sedikit.

“Kalian benar-benar ingin mati...”

Di sisi lain, suara geraman keras meledak dari tubuhnya.

“Kalian benar-benar gila! Kalian ingin membunuhku dengan teknik ini?!” teriaknya, marah bercampur sedih. “Berhenti! Kalau kalian terus memaksakan ini... salah satu dari kita pasti akan hancur!”

Mei Lianhua tertawa dingin. Rambutnya berkibar liar tertiup badai aura, matanya penuh kilat.

"Abaikan saja ocehannya, Yi Wushen. Dia sudah putus asa, itu sebabnya dia bicara seperti itu."

Wajah Zhao Feng mengeras. Ia mengepalkan tangan, lalu merentangkannya ke langit sambil berteriak.

“Orang tua keras kepala!! Kalau begitu... Infernal Phoenix Descent!”

Langit terbelah. Dari atas, muncul seekor phoenix raksasa yang terbakar api surgawi. Sayapnya membentang sejauh cakrawala, dan tiap kibasan menghasilkan gelombang panas yang menyayat langit. Daratan retak, lahar menyembur seperti darah dari luka terbuka.

Di bawah langit yang seperti hendak runtuh, para prajurit mulai panik. Mereka berlari, berteriak, menggunakan artefak teleportasi untuk melarikan diri. Tapi tekanan spiritual terlalu besar. Bahkan dari ratusan kilo jauhnya, tubuh mereka terasa dihantam gunung yang runtuh.

Langit menggelap seperti malam abadi. Tanah berguncang hebat, seakan dunia akan benar-benar berakhir.

Dan di tengah semua kekacauan itu, Lynx berdiri tenang bersama Rira. Angin dari ledakan aura membuat rambut Rira menari-nari, sementara jubah putih Lynx berkibar lembut.

“Begitu kekanak-kanakan,” gumam Lynx sambil menghela napas ringan. Ia menyilangkan tangan di dada, matanya menatap langit yang akan segera pecah oleh benturan kekuatan. “Empat immortal... dan semuanya bertingkah seperti anak kecil yang tak mau mengalah. Baiklah sudah waktunya selesaikan ini semua.”

Rira mengangguk perlahan. Sorot matanya tetap dingin, menyembunyikan rasa meremehkan yang samar.

